Minggu, 02 Mei 2010
di
20.12
|
0
komentar
tanpa sebuah harapan berlebihan
seorang anak yang hidup dibawah tekanan ternyata mampu bertahan sampai usianya menjelang 21 tahun
tatkala tak satupun makhluk hidup menganggapnya ada, dia tetap berusaha tersenyum dibayang-bayang getir yang menyiksa
hanya ada dua tangan yang benar-benar menopang lemah tubuhnya, dua orang bidadari yang mewarnai tiap satire kehidupannya
tiap tiap mereka tak pernah tahu arti pedih senyum manis yang mereka puji-puji
dia cuma tak ingin merasa orang lain murung dengan murungnya dia
begitu banyak rahasia yang dia simpan direlung hatinya
terkadang dia menyimpannya dalam rangkaian kata-kata yang ia simpan dikotak ajaib miliknya
dimana duka dan suka dia torehkan dikertas putih bergaris darah dengan tinta air mata
tak ada yang mengetahui dimana ia menyimpan kisah hidupnya
tak ada yang mengerti makna rangkai kata yang dia torehkan didinding bisu kamarnya
tak ada yang mengetahui betapa hampanya hidupnya hanya berteman buku sekolahnya
belajar dan berharap kelak buku itu membawanya ketitik terang cahaya
ketika anak-anak seumurannya sibuk bermanja-manja dengan keluarganya
menghabiskan waktu dengan tertawa tawa suka
ia malah sibuk menangisi telapak tangannya yang menengadah dihadapan tuhannya
berharap saudara-saudaranya sadar dan menganggapnya berguna dilahirkan kedunia fana
ia berfikir perbedaan apa yang ia miliki sehingga mata sinis semakin tajam menyayat perasaannya yang cuma ingin dianggap ada
pembelaan dua orang bidadarilah yang membuat dia bertahan
rasa sayangnya melebihi rasa sayang orang yang dia kenal semasa hidupnya
kalau sayang seseorang bisa dipura-purakan tapi mereka seperti tak tahu bagaimana berpura-pura sayang padanya
sampai jauhpun mereka seakan tak rela melepasnya
tapi ia tak hanya inginkan itu berlebihan
karena ia tak pernah berharap berlebihan
ia cuma ingin sayang yang hilang dimasa kanak-kanaknya terbayar dengan sayang yang ikhlas dari saudara-saudaranya menjelang usianya 21 tahun
walaupun inginnya tak berlebihan tapi sampai usianya menjelang 21 tahunpun harapan itu hanya sebuah ambisi sesat yang bakal menghancurkan pribadinya yang telah menguat
yang juga bakal menghancurkan kedewasaan yang ia bangun diatas semangat orang yang tak berpura-pura menganggapnya hebat
sejak kecilnya ia hanya ingin membuat bahagia orang-orang disekitarnya
dengan berusaha berprestasi diatas titik nol support orang-orang yang ia harapkan
meski jatuh sampai dititik nadir kepesimisan ia tetap berusaha menunjukkan kalau ia bisa
meski tak berharap mereka berkata "INI DIA ADIKKU"
pujian bukanlah harapan yang dia sampaikan kepada tuhannya
bukan pula doa yang ia panjatkan setiap saat ia menitikkan air matanya
dia sebenarnya punya hati yang gagah
tak sekalipun menganggap penting kecilnya masalah
hanya saja dia yang tak punya kompas pengarah
terlihat seperti orang yang lemah
karena tak pernah dianggap berharga menjadikan dia punya amarah
meledak ledak kadang tak terarah
sampai menjelang 21 tahun persepsi kedewasaan miliknya berbeda dengan kedewasaan orang lain
dia menganggap inilah kedewasaanku
kedewasaan seseorang yang kehilangan kisah suka
kedewasaan seseorang yang berharap dicinta
kedewasaan ekstrim yang jauh dari definisi kedewasaan orang yang mengenalnya
yang tak lebih dari kekanak-kanakan yang dibalut usia tua
tapi ia cuma ingin menjelaskan kalau dia sampai seusia ini
bertahan setua ini adalah hasil perjalanan hidup yang tak lengkap, rampung seperti essai yang harus diisi
diisi dengan kasih sayang yang direnggut karena perbedaan yang tak teresensi
diisi dengan cinta tulus yang tak diberi karena terlahirnya ia mungkin tak di ingini
tapi satu yang tetap ia ingin proklamirkan
bahwa ia adalah
seorang anak yang hidup dibawah tekanan ternyata mampu bertahan sampai usianya menjelang 21 tahun
tanpa sebuah harapan berlebihan
seorang anak yang hidup dibawah tekanan ternyata mampu bertahan sampai usianya menjelang 21 tahun
tatkala tak satupun makhluk hidup menganggapnya ada, dia tetap berusaha tersenyum dibayang-bayang getir yang menyiksa
hanya ada dua tangan yang benar-benar menopang lemah tubuhnya, dua orang bidadari yang mewarnai tiap satire kehidupannya
tiap tiap mereka tak pernah tahu arti pedih senyum manis yang mereka puji-puji
dia cuma tak ingin merasa orang lain murung dengan murungnya dia
begitu banyak rahasia yang dia simpan direlung hatinya
terkadang dia menyimpannya dalam rangkaian kata-kata yang ia simpan dikotak ajaib miliknya
dimana duka dan suka dia torehkan dikertas putih bergaris darah dengan tinta air mata
tak ada yang mengetahui dimana ia menyimpan kisah hidupnya
tak ada yang mengerti makna rangkai kata yang dia torehkan didinding bisu kamarnya
tak ada yang mengetahui betapa hampanya hidupnya hanya berteman buku sekolahnya
belajar dan berharap kelak buku itu membawanya ketitik terang cahaya
ketika anak-anak seumurannya sibuk bermanja-manja dengan keluarganya
menghabiskan waktu dengan tertawa tawa suka
ia malah sibuk menangisi telapak tangannya yang menengadah dihadapan tuhannya
berharap saudara-saudaranya sadar dan menganggapnya berguna dilahirkan kedunia fana
ia berfikir perbedaan apa yang ia miliki sehingga mata sinis semakin tajam menyayat perasaannya yang cuma ingin dianggap ada
pembelaan dua orang bidadarilah yang membuat dia bertahan
rasa sayangnya melebihi rasa sayang orang yang dia kenal semasa hidupnya
kalau sayang seseorang bisa dipura-purakan tapi mereka seperti tak tahu bagaimana berpura-pura sayang padanya
sampai jauhpun mereka seakan tak rela melepasnya
tapi ia tak hanya inginkan itu berlebihan
karena ia tak pernah berharap berlebihan
ia cuma ingin sayang yang hilang dimasa kanak-kanaknya terbayar dengan sayang yang ikhlas dari saudara-saudaranya menjelang usianya 21 tahun
walaupun inginnya tak berlebihan tapi sampai usianya menjelang 21 tahunpun harapan itu hanya sebuah ambisi sesat yang bakal menghancurkan pribadinya yang telah menguat
yang juga bakal menghancurkan kedewasaan yang ia bangun diatas semangat orang yang tak berpura-pura menganggapnya hebat
sejak kecilnya ia hanya ingin membuat bahagia orang-orang disekitarnya
dengan berusaha berprestasi diatas titik nol support orang-orang yang ia harapkan
meski jatuh sampai dititik nadir kepesimisan ia tetap berusaha menunjukkan kalau ia bisa
meski tak berharap mereka berkata "INI DIA ADIKKU"
pujian bukanlah harapan yang dia sampaikan kepada tuhannya
bukan pula doa yang ia panjatkan setiap saat ia menitikkan air matanya
dia sebenarnya punya hati yang gagah
tak sekalipun menganggap penting kecilnya masalah
hanya saja dia yang tak punya kompas pengarah
terlihat seperti orang yang lemah
karena tak pernah dianggap berharga menjadikan dia punya amarah
meledak ledak kadang tak terarah
sampai menjelang 21 tahun persepsi kedewasaan miliknya berbeda dengan kedewasaan orang lain
dia menganggap inilah kedewasaanku
kedewasaan seseorang yang kehilangan kisah suka
kedewasaan seseorang yang berharap dicinta
kedewasaan ekstrim yang jauh dari definisi kedewasaan orang yang mengenalnya
yang tak lebih dari kekanak-kanakan yang dibalut usia tua
tapi ia cuma ingin menjelaskan kalau dia sampai seusia ini
bertahan setua ini adalah hasil perjalanan hidup yang tak lengkap, rampung seperti essai yang harus diisi
diisi dengan kasih sayang yang direnggut karena perbedaan yang tak teresensi
diisi dengan cinta tulus yang tak diberi karena terlahirnya ia mungkin tak di ingini
tapi satu yang tetap ia ingin proklamirkan
bahwa ia adalah
seorang anak yang hidup dibawah tekanan ternyata mampu bertahan sampai usianya menjelang 21 tahun
tanpa sebuah harapan berlebihan
Diposting oleh
My Imagine Exploring


