Ayah
jika kau terbangun nanti, aku akan ada menyiapkan teh pertama untukmu
jika kau ingin tertawa maka akulah anakmu yang membuat lelucon garing untukmu
ayah
aku mau pulang, meski hujan terus menerus menggerus jalanan, kukan berlari kestasiun, kumatikan traffic light ditiap perempatan jalanku tuk berlari, tak perduli supir angkot teriak teriak mengutukku atau mobil pejabat pongah hampir menabrakku
asalkan ku sampai kestasiun
argggh
kalau ku ada sayap atau sekali cling kubisa menghilang
sangat mudah aku bisa pulang kapan saja ku mau
Ayah
kau ingatkah aku
anakmu yang banyak mimpi
padahal anakmu ini tak tertidur pulas
tetap terjaga memperhatikan banyak kecoak berbunyi sapi
ayah
sepeda kayuhmu dulu kemana?
aku ingat kau membawaku ke pekan dengan sepeda kayuh itu
sepeda yang ada seperti bambu diantara setang dan tempat duduknya
sepeda apa itu yah namanya
aku lupa
kuingat sekali yah jalanan didesa kita tempat ban sepedamu meluncur dulu warnanya masih merah
tak hitam seperti sekarang
jelek sekali ya yah warnanya
ayah
sosokmu itu kurindu
yang kata orang orang sangat bersahaja
malah ada tante yang bilang kalau ayah dulu tampan
tapi aku tak tahu semua itu yah
hanya kudengar dari cerita orang orang atau sesekali kudengar dari bunga mawar yang ditanam bunda didepan rumah kita
ayah
sehangat apakah perhatianmu pada anak-anakmu
kau terus saja sembunyikan itu
padahal ketika kau tersenyum
bintang bintang ikut turun ingin melihat
Ayah
aku mau pulang
dan ketika kau terbangun dari tidurmu
segelas teh tubruk sudah kusiapkan di meja
juga kerupuk jengkol kesukaanmu
jika kau terbangun nanti, aku akan ada menyiapkan teh pertama untukmu
jika kau ingin tertawa maka akulah anakmu yang membuat lelucon garing untukmu
ayah
aku mau pulang, meski hujan terus menerus menggerus jalanan, kukan berlari kestasiun, kumatikan traffic light ditiap perempatan jalanku tuk berlari, tak perduli supir angkot teriak teriak mengutukku atau mobil pejabat pongah hampir menabrakku
asalkan ku sampai kestasiun
argggh
kalau ku ada sayap atau sekali cling kubisa menghilang
sangat mudah aku bisa pulang kapan saja ku mau
Ayah
kau ingatkah aku
anakmu yang banyak mimpi
padahal anakmu ini tak tertidur pulas
tetap terjaga memperhatikan banyak kecoak berbunyi sapi
ayah
sepeda kayuhmu dulu kemana?
aku ingat kau membawaku ke pekan dengan sepeda kayuh itu
sepeda yang ada seperti bambu diantara setang dan tempat duduknya
sepeda apa itu yah namanya
aku lupa
kuingat sekali yah jalanan didesa kita tempat ban sepedamu meluncur dulu warnanya masih merah
tak hitam seperti sekarang
jelek sekali ya yah warnanya
ayah
sosokmu itu kurindu
yang kata orang orang sangat bersahaja
malah ada tante yang bilang kalau ayah dulu tampan
tapi aku tak tahu semua itu yah
hanya kudengar dari cerita orang orang atau sesekali kudengar dari bunga mawar yang ditanam bunda didepan rumah kita
ayah
sehangat apakah perhatianmu pada anak-anakmu
kau terus saja sembunyikan itu
padahal ketika kau tersenyum
bintang bintang ikut turun ingin melihat
Ayah
aku mau pulang
dan ketika kau terbangun dari tidurmu
segelas teh tubruk sudah kusiapkan di meja
juga kerupuk jengkol kesukaanmu
Diposting oleh
My Imagine Exploring
Label:
Merindukan Sosok Ayah



0 komentar:
Posting Komentar