Sabtu, 04 Desember 2010
di
10.42
|
Kini Kusemakin Jauh Dari Yang Dulu
Hidup Dimasa Sekarang
Yang Tak Lepas Dari Bayang-Bayang
Mencoba Melangkah Dengan Banyaknya Harapan
Kumulai Dengan Merangkak
Dengan Lutut Kucoba Mengejar Yang Tampak
Tersenyum Aku Datangi Tangan Yang Mengajak
Menggendongku
Ku Merasa Senang Dan Tersenyum Hingga Terbahak-Bahak
Ialah Tangan Ibuku
Memberiku Arti Hangatnya Pelukan
Yang Terasa Damai Dan Nyaman
Tak Sedikitpun Beban Tertanggung Dikala Itu
Semuanya Sirna, Hilang Digelitik Tangan Lembutnya
Mulaiku Berjalan Dengan Dua Telapak Kaki
Awalnya Satu Dua Langkah
Hingga Kubisa Tanpa Diarah
Ibuku Ajariku Berdiri Dan Coba Berjalan Dengan Kalimat Indah
'Tattah,,,Tattah,,Tattah Anakku'
Kutak Tahu Apa Artinya
Kenapaku Dituntun Supaya Berjalan Dengan Kalimat Itu
Tapi Kusemangat Untuk Bisa Berjalan Lincah
Berlari Kearah Tangan Ibu Yang Sudah Siap Menangkapku Bila Bila Ku Terjatuh
Sampai Kuberjalan Lincah Tanpa Dituntun
Ibuku Malah Bertepuk Tangan Bangga
Mungkin Melihatku Yang Bisa Berlari Kesana Kemari Dengan Senyum Khasku
Kurasakan Akulah Yang Paling Disayang
Hidup Dimasa Sekarang
Yang Tak Lepas Dari Bayang-Bayang
Mencoba Melangkah Dengan Banyaknya Harapan
Kumulai Dengan Merangkak
Dengan Lutut Kucoba Mengejar Yang Tampak
Tersenyum Aku Datangi Tangan Yang Mengajak
Menggendongku
Ku Merasa Senang Dan Tersenyum Hingga Terbahak-Bahak
Ialah Tangan Ibuku
Memberiku Arti Hangatnya Pelukan
Yang Terasa Damai Dan Nyaman
Tak Sedikitpun Beban Tertanggung Dikala Itu
Semuanya Sirna, Hilang Digelitik Tangan Lembutnya
Mulaiku Berjalan Dengan Dua Telapak Kaki
Awalnya Satu Dua Langkah
Hingga Kubisa Tanpa Diarah
Ibuku Ajariku Berdiri Dan Coba Berjalan Dengan Kalimat Indah
'Tattah,,,Tattah,,Tattah Anakku'
Kutak Tahu Apa Artinya
Kenapaku Dituntun Supaya Berjalan Dengan Kalimat Itu
Tapi Kusemangat Untuk Bisa Berjalan Lincah
Berlari Kearah Tangan Ibu Yang Sudah Siap Menangkapku Bila Bila Ku Terjatuh
Sampai Kuberjalan Lincah Tanpa Dituntun
Ibuku Malah Bertepuk Tangan Bangga
Mungkin Melihatku Yang Bisa Berlari Kesana Kemari Dengan Senyum Khasku
Kurasakan Akulah Yang Paling Disayang
Kumulai Besar
Mulai Tak Suka Disentuh
Mulai Tak Suka Dimanja
Mulai Tak Suka Dimarah
Mulai Tak Suka Pipiku Dipegang
Yah,,,
Aku Sudah Kelas 1 Sekolah Dasar
Tapi Aku Masih Minta Mainan
Menangis Kalau Tak Dikasi Uang Jajan
Ngambek Kalau Ibu Suruh Mandi Sore
Malas Bangun Pagi
Alasan Gak Enak Badan Kalau Disuruh Sekolah
Main Seharian Kalau Libur Sekolah
Makan Siang Harus Dibujuk
Tapi Aku Masi Merasakan Ibuku Memelukku Disaat Tidur
Meski Aku Anaknya Yang Nakal
Tidak Terasa
Suatu Malam Aku Ketakutan Luar Biasa
Kenapa Celana Dalamku Lengket Dan Basah
Tak Tahu Dan Tak Berani Bertanya
Kutanyakan Pada Temanku
Mereka Bilang 'Itu Darah Putih,
Kalau Keseringan Keluar Bisa Mati'
Aku Semakin Ketakutan, Tiap Darah Putih Itu Keluar Kurasa Aneh,
Nikmat Rasanya
Tapi Kalau Bisa Membuat Mati Apa Gunanya,,,
Ya, Kejadian Malam Itu Saat Aku Berumur 14 Tahun
Kelas 2 Sekolah Tingkat Pertama
Kuberanikan Bertanya Pada Kakak Lelakiku
Tapi Mereka Bilang Itu Tandanya Aku Mulai Dewasa
Pantas Saja Kalau Melihat Si 'Rini, Lily, Atau Indah'
Jantungku Deg-Deg An,,,
Aku Semakin Takut Jadi Dewasa
Nanti Ibu Gak Bakal Mau Lagi Memelukku
Nanti Aku Gak Dibelikan Mainan Lagi...
Tapi Entah Kenapa Ibuku Tetap Sayang Padaku
Buktinya Ibu Selalu Mengingatkanku Untuk Sholat Jum'at
Dan Sholat 5 Waktu
Kata Ibu Itu Tanggung Jawab Orang Yang Sudah Dewasa
Aku Marah Marah
'Aku Mau Dibelikan Motor
Aku Gak Mau Sekolah Diantar-Antar Lagi
Malu Bu'
Kata-Kata Kerasku Pada Ibu Saat Itu Untuk Pertama Kali
Aku Tak Sadar Dosa Itu Mulai Muncul Disitu
Usia 17 Tahun Masa-Masa Sekolah Menengah Atas
Aku Memasuki Masa-Masa Mencari Jati Diriku
Aku Mau Semua Tunduk Pada Perintahku
Aku Gak Mau Dinasehati
Aku Mau Senang-Senang
Gitar-Gitaran, Duduk-Duduk Santai, Jahilin Orang-Orang, Mencari Pacar,
Tak Penting Lagi Belajar
Sekolah Saat Itu Kuanggap Topeng
Supaya Aku Kelihatan Pintar Saja
Keluargaku Sampai Bingung
Jiwa Pemberontakku Menjadi-Jadi
Sampai-Sampai Orang Yang Sayangiku Terlihat Tak Berharga Lagi Dimataku
Tapi Saat Diamku Aku Selalu Termenung Aku Ingin Kembali Kemasa Aku Tak Seperti Ini
Jadi Anak Nakal Tapi Tetap Menurut Dan Patuh Pada Ibuku, Ayahku Dan Kakakku
Aku Bukan Malah Menemukan Jati Diriku Tapi Malah Kehilangan Diriku Sendiri
Tapi Ibuku Masih Saja Tersenyum
Baginya Aku Adalah Anaknya Yang Masa Kecilku Sering Ngompol Di Gendongannya
Dia Tetap Teguh Doakanku
Kini Aku Sendiri
Jauh Dari Keluargaku
Dengan Tanggung Jawab Yang Lebih Besar
Aku Sanggup Melewati Masa Remajaku Yang Tak Berbentuk
Buram Dan Tak Pantas Lagi Dipertahankan
Aku Sudah Pandai Berjalan
Memilih Yang Dipilih Meski Belum Tentu Yang Terbaik
Belajar Sendiri Dan Mencoba Mandiri
Belajar Bergaul Mencari Sahabat Yang Saling Mengerti
Mengukir Senyum Ditiap Lari Lari Kecilku
Menghargai Tiap Peluh Yang Dikeluarkan Keluargaku
Berusaha Mengganti Air Mata Ibuku Yang Selalu Kubuat Terjatuh
Bercita-Cita Membuat Rona Senyum Ibuku Tetap Indah Meski Sudah Mulai Tertutup Keriput
Merangkum Semua Nasehat Orang Yang Menyayangiku Di Palung Jiwaku Yang Penuh Sesal
Dan Mewujudkan Semua Harapan Mereka Dalam Satu Senyuman Bangga
Dan Tetesan Airmata Bahagia
Karena Aku Sadar Sebentar Lagi Aku Juga Akan Mati
Berselimut Kain Putih Dan Berbaring Ditanah Merah
Dinginpun Tak Dirasai Lagi
Akan Rusak Daging Dimakan Cacing
Akan Remuk Tulang Dimakan Waktu
Kini Kusemakin Jauh Dari Yang Dulu
Hidup Dimasa Sekarang
Yang Tak Lepas Dari Bayang-Bayang
Mencoba Melangkah Dengan Banyaknya Harapan
Mulai Tak Suka Disentuh
Mulai Tak Suka Dimanja
Mulai Tak Suka Dimarah
Mulai Tak Suka Pipiku Dipegang
Yah,,,
Aku Sudah Kelas 1 Sekolah Dasar
Tapi Aku Masih Minta Mainan
Menangis Kalau Tak Dikasi Uang Jajan
Ngambek Kalau Ibu Suruh Mandi Sore
Malas Bangun Pagi
Alasan Gak Enak Badan Kalau Disuruh Sekolah
Main Seharian Kalau Libur Sekolah
Makan Siang Harus Dibujuk
Tapi Aku Masi Merasakan Ibuku Memelukku Disaat Tidur
Meski Aku Anaknya Yang Nakal
Tidak Terasa
Suatu Malam Aku Ketakutan Luar Biasa
Kenapa Celana Dalamku Lengket Dan Basah
Tak Tahu Dan Tak Berani Bertanya
Kutanyakan Pada Temanku
Mereka Bilang 'Itu Darah Putih,
Kalau Keseringan Keluar Bisa Mati'
Aku Semakin Ketakutan, Tiap Darah Putih Itu Keluar Kurasa Aneh,
Nikmat Rasanya
Tapi Kalau Bisa Membuat Mati Apa Gunanya,,,
Ya, Kejadian Malam Itu Saat Aku Berumur 14 Tahun
Kelas 2 Sekolah Tingkat Pertama
Kuberanikan Bertanya Pada Kakak Lelakiku
Tapi Mereka Bilang Itu Tandanya Aku Mulai Dewasa
Pantas Saja Kalau Melihat Si 'Rini, Lily, Atau Indah'
Jantungku Deg-Deg An,,,
Aku Semakin Takut Jadi Dewasa
Nanti Ibu Gak Bakal Mau Lagi Memelukku
Nanti Aku Gak Dibelikan Mainan Lagi...
Tapi Entah Kenapa Ibuku Tetap Sayang Padaku
Buktinya Ibu Selalu Mengingatkanku Untuk Sholat Jum'at
Dan Sholat 5 Waktu
Kata Ibu Itu Tanggung Jawab Orang Yang Sudah Dewasa
Aku Marah Marah
'Aku Mau Dibelikan Motor
Aku Gak Mau Sekolah Diantar-Antar Lagi
Malu Bu'
Kata-Kata Kerasku Pada Ibu Saat Itu Untuk Pertama Kali
Aku Tak Sadar Dosa Itu Mulai Muncul Disitu
Usia 17 Tahun Masa-Masa Sekolah Menengah Atas
Aku Memasuki Masa-Masa Mencari Jati Diriku
Aku Mau Semua Tunduk Pada Perintahku
Aku Gak Mau Dinasehati
Aku Mau Senang-Senang
Gitar-Gitaran, Duduk-Duduk Santai, Jahilin Orang-Orang, Mencari Pacar,
Tak Penting Lagi Belajar
Sekolah Saat Itu Kuanggap Topeng
Supaya Aku Kelihatan Pintar Saja
Keluargaku Sampai Bingung
Jiwa Pemberontakku Menjadi-Jadi
Sampai-Sampai Orang Yang Sayangiku Terlihat Tak Berharga Lagi Dimataku
Tapi Saat Diamku Aku Selalu Termenung Aku Ingin Kembali Kemasa Aku Tak Seperti Ini
Jadi Anak Nakal Tapi Tetap Menurut Dan Patuh Pada Ibuku, Ayahku Dan Kakakku
Aku Bukan Malah Menemukan Jati Diriku Tapi Malah Kehilangan Diriku Sendiri
Tapi Ibuku Masih Saja Tersenyum
Baginya Aku Adalah Anaknya Yang Masa Kecilku Sering Ngompol Di Gendongannya
Dia Tetap Teguh Doakanku
Kini Aku Sendiri
Jauh Dari Keluargaku
Dengan Tanggung Jawab Yang Lebih Besar
Aku Sanggup Melewati Masa Remajaku Yang Tak Berbentuk
Buram Dan Tak Pantas Lagi Dipertahankan
Aku Sudah Pandai Berjalan
Memilih Yang Dipilih Meski Belum Tentu Yang Terbaik
Belajar Sendiri Dan Mencoba Mandiri
Belajar Bergaul Mencari Sahabat Yang Saling Mengerti
Mengukir Senyum Ditiap Lari Lari Kecilku
Menghargai Tiap Peluh Yang Dikeluarkan Keluargaku
Berusaha Mengganti Air Mata Ibuku Yang Selalu Kubuat Terjatuh
Bercita-Cita Membuat Rona Senyum Ibuku Tetap Indah Meski Sudah Mulai Tertutup Keriput
Merangkum Semua Nasehat Orang Yang Menyayangiku Di Palung Jiwaku Yang Penuh Sesal
Dan Mewujudkan Semua Harapan Mereka Dalam Satu Senyuman Bangga
Dan Tetesan Airmata Bahagia
Karena Aku Sadar Sebentar Lagi Aku Juga Akan Mati
Berselimut Kain Putih Dan Berbaring Ditanah Merah
Dinginpun Tak Dirasai Lagi
Akan Rusak Daging Dimakan Cacing
Akan Remuk Tulang Dimakan Waktu
Kini Kusemakin Jauh Dari Yang Dulu
Hidup Dimasa Sekarang
Yang Tak Lepas Dari Bayang-Bayang
Mencoba Melangkah Dengan Banyaknya Harapan
Diposting oleh
My Imagine Exploring



0 komentar:
Posting Komentar